Jumat, 01 Juni 2012

strategi fiqih

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Fiqih secara umum  merupakan  salah  satu  bidang  studi  Islam  yang  banyak  membahas tentang  hukum  yang  mengatur  pola  hubungan  manusia  dengan  Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya. Melalui bidang  studi  fiqih  ini  diharapkan  siswa  tidak  lepas  dari  jangkauan  norma-norma agama dan menjalankan aturan syariat Islam.
Guru yang merupakan ujung tombak dalam dunia pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam kesuksesan pembelajaran Fiqih. Maka, seorang guru setidaknya harus mampu menguasai bahan ajar serta strategi dan metode-metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran Fiqih.
Proses  belajar-mengajar  akan  berjalan  dengan  baik  apabila strategi dan metode  yang digunakan  betul-betul  tepat,  karena  antara  pendidikan  dengan strategi dan metode  saling berkaitan. Sehingga dalam prosesnya, pembelajaran fiqih dapat dipahami dan diaplikasikan oleh anak didik serta menyenangkan untuk dipelajari. Menurut  Zakiah Daradjat,  pendidikan  adalah  usaha  atau  tindakan untuk membentuk manusia.  Disini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang diinginkan, dalam fiqih berpengetahuan dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan hokum islam yang benar.

B.       Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, meliputi:
1.      Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran?
2.      Bagaimana langkah-langkah dalam menyusun strategi pembelajaran efektif?
3.      Strategi apa yang tepat digunakan guru dalam pembelajaran Fiqih?
4.      Metode apa yang tepat digunakan guru dalam pembelajaran Fiqih?

PEMBAHASAN


A.    Definisi Strategi Pembelajaran
Istilah strategi berasal dari Bahasa Yunanai yakni strategos yang berarti keseluruhan usaha, termasuk perencanaan, cara taktik yang digunakan militer untuk mencapai kemenangan dalam perang, siasat perang.[1]
 Dalam pengajaran, strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. Artinya usaha guru dalam menggunakan beberapa variable pengajaran (tujuan, bahan, metode dan, alat serta evaluasi) agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian strategi mengajar pada dasarnya adalah tindakan nyata dari guru dalam melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu, yang dinilai lebih efektif dan lebih efesien.[2]
“Menurut Gerlach dan Ely bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajarant tertentu”.[3]
Sementara itu, Kemp mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Menurut Anthony S. Jones mengatakan bahwa strategi mengajar adalah “an Educational method for turning knowledge into learning”. Yaitu metode pendidikan untuk mengubah pengetahuan menjadi belajar.[4]
Dari beberapa pengertian strategi di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pelajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar.[5]
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something”. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

B.     Langkah-langkah dalam Menyusun Strategi Pembelajaran Efektif
Pengertian strategi pembelajaran efektif adalah prinsip memilih hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Killen (1998): No teaching strategy is better than others in all circumstances, so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make rational decisions about when each of the teaching strategies is likely to most effective. (Tidak ada strategi mengajar adalah lebih baik daripada yang lain dalam segala situasi, sehingga Anda harus dapat menggunakan berbagai variasi strategi pengaaran, dan membuat keputusan yang rasional tentang kapan masing-masing strategi pengajaran cenderung paling efektif).
Apa yang dikemukakan Killen itu jelas bahwa guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh sebab itu, guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut.
1.    Guru
Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa  komponen lain menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.

2.    Peserta Didik
Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.

3.    Berorientasi pada Tujuan
Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestinya diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

4.    Bahan Pelajaran/Materi Pelajaran
Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran.

5.    Kegiatan pembelajaran
Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.

6.    Alat atau Media
Alat yang dipergunakan dalam pembelajran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Alat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat verbal dan alat bantu nonverbal. Alat verbal dapat berupa suruhan, perintah, larangan dan lain-lain, sedangkan yang nonverbal dapat berupa globe, peta, papan tulis slide dan lain-lain.

7.    Sumber Pembelajaran
Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat atau rujukan di mana bahan pembelajaran bisa diperoleh. Sehingga sumber belajar dapat berasal dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaannya, misalnya, manusia, buku, media masa, lingkungan, museum, dan lain-lain.

8.    Aktivitas
Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik.


9.    Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun kita mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.

10.     Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga meliputi aspek afektif, dan psikomotorik.  

C.    Macam-macam Strategi Pembelajaran yang Digunakan dalam Pembelajaran Fiqih
Proses pembelajaran memiliki keunikan tersendiri. Siswa yang menjadi bagian dari sistem pembelajaran tidak hanya berperan sebagai obyek pendidikan, melainkan berperan juga sebagai subyek pendidikan. Perlakuan terhadap siswa ini yang menjadikan mereka bisa lebih mandiri dalam belajar, lebih aktif dan lebih punya kreatifitas dalam mengembangkan materi yang telah disampaikan guru. Hal ini mendorong terciptanya strategi dan metode pembelajaran secara aktif, guna memberikan ruang yang cukup untuk perkembangan kemampuan dan kreatifitas siswa.
Adapun macam-macam strategi yaitu:
1.    Strategi Ekspositoris
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekolompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai meteri pelajaran secara optimal. Strategi ini juga disebut strategi pembelajaran lansung.[6]
Penggunaan sistem ekspositori merupakan sistem pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi materi kepada siswa secara langsung.
Penggunaan sistem ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta-fakta, konsep dan prinsip karena telah disajikan secara jelas oleh guru. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan ekspositori cenderung berpusat kepada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi pembelajaran secara terperinci tentang materi pembelajaran. Dalam pembelajaran agama islam strategi ini merupakan strategi klasik yang sering digunakan oleh para pengajar Islam, begitu pula dengan pelajaran fiqh.

2.    Strategi Inquiry
Strategi inquiry merupakan rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.[7]
Inquiry merupakan strategi yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.
Siswa memiliki potensi untuk berbeda. Perbedaan siswa terlihat dalam pola pikir, daya imajinasi, fantasi (pengandaian) dan hasil karyanya. Karena itu, kegiatan pembelajaran fiqih perlu dipilih dan dirancang agar memberi kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kreatifitas siswa. Hal ini telah Rasulullah lakukan dengan menggunakan metode tanya jawab.
Dari Abu Hurairah R.A. berkata ”Seorang laki-laki dari Bani Fijarah datang kepada Nabi dan berkata, istriku melahirkan anak berkulit hitam. Lalu Nabi berkata, apakah kamu mempunyai unta? Ia menjawab Ya ada, apa warnanya? Tanya Nabi. Ia menjawab merah. Nabi bertanya lagi, adakah yang berwarna ke abu-abuan? Ia menjawab Ya ada. Kemudian Nabi bertanya, kenapa hal itu bisa terjadi? Ia menjawab, mungkin ia menyerupai induknya. Beliau bersabda, ini juga menyerupai induknya (ibunya).[8]

Dari hadits diatas terlihat jelas bahwa Rasulullah mengajarkan bukan langsung memberi tahu, tetapi terlebih dahulu bertanya, untuk memancing kreatifitas. Artinya keterampilan bertanya bagi seorang guru sudah diajarkan oleh Rasulullah 4 abad yang lalu.

3.    Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya..[9]
Contextual Teaching and Learning yang umumnya disebut dengan pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (Meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi maupun kultural. Sehingga peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke permasalahan lainnya.[10]
Pembelajaran konstektual terfokus pada perkembangan ilmu, pemahaman keterampilan siswa, dan juga pemahaman konstektual siswa tentang hubungan mata pelajaran yang dipelajarinya dengan dunia nyata. Pembelajaran akan bermakna jika guru lebih menekankan agar siswa mengerti relevansi apa yang mereka pelajari di sekolah dengan situasi kehidupan nyata dimana isi pelajaran akan digunakan.[11]
Guru mengajar dalam pembelajaran Fiqih dengan tujuan mengarahkan siswa dalam memahami, mengenal, menghayati dan mengamalkan hukum Islam yang mengarah siswa supaya taat dan bertaqwa kepada Allah SWT melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta pengalaman siswa sehingga menjadi muslim yang selalu bertambah keimanannya kepada Allah SWT.

4.    Strategi Pemecahan Masalah
Strategi pembelajaran berbasis masalah dartikan sebagai rangakaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.
Artinya dalam strategi ini siswa tidak hanya dituntut untuk mencatat, mendengarkan, menghafal pelajaran. Akan tetapi siswa dituntut untuk berkomunikasi, berfikir kritis, mencari dan mengolah data yang akhirnya memberikan kesimpulan. Aktivitas yang dilakukan diarahkan untuk menyelasikan masalah. Dalam strategi ini, permasalahan merupakan kata kunci dalam pembelajaran. Pemcahan masalah yang dilakukan dengan menggunakan berfikir secara ilmiah secara sistematis dan empiris.

D.    Metode yang Digunakan dalam Pembelajaran Fiqih
Prinsip metodologi pendidikan modern selalu menunjuk kepada aspek berganda. Satu aspek menunjukkan proses anak belajar dan aspek lainnya menunjukkan aspek guru mengajar dan mendidik. Oleh karena itu, sebelum memilih strategi yang tepat, maka ada beberapa asas-asas dalam mengajar dan menididik, yaitu:
1.      Memperhatikan tingkat daya pikir anak didik
2.      Menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya
3.      Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit kepada yang abstrak
4.      Mengajarkan dengan cara berangsur-angsur
5.      Memberi tahu tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari kepada anak didik
6.      Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang sederhana kepada yang kompleks
7.      Memperhatikan sistematika pembahasannya dalam mengajar[12]

Banyak macam metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran islam yang juga relevan dengan pembelajaran fiqih, diantaranya: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode resitasi (pemberian tugas), metode demonstrasi, metode pemecahan masalah (problem solving) metode simulasi. Tidak ada metode mengajar yang lebih baik dari metode yang lain. Tiap-tiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan. Dalam penerapannya tidak satu metode saja yang digunakan dalam satu kali proses pembelajaran melainkan dapat digunakan dua, tiga atau lebih, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Semakin bervariasi metode yang digunakan semakin menghidupkan suasana kelas bagi siswa-siswi yang belajar.
Dalam pelajaran fiqih, seorang guru dapat memilih beberapa metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan seperti materi tentang berwudhu. Pada materi ini seorang guru fiqih bisa memakai metode ceramah, metode kelompok, metode tanya jawab, demonstrasi atau metode yang lainnya yang menurut guru fiqih bisa dipakai dan cocok dengan materi yang disampaikan. Karena harus disadari oleh pendidik tidak semua metode cocok dengan materi yang akan disampaikan.


1.      Metode ceramah
Metode ceramah ialah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai. Ini relevan dengan definisi yang dikemukakan oleh Ramayulis, bahwa metode ceramah ialah “penerangan dan penuturan secara lisan guru terhadap murid-murid diruangan kelas”. Zuhairini mendefinisikan bahwa metode ceramah “adalah suatu metode di dalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-materi pelajaran kepada anak didik dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan”.[13]
Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru dimuka kelas. Para murid sebagai penerima pesan, mendengarkan, memeprhatikan, dan mencatat keterangan-keterangan guru bilamana diperlukan.[14]
Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.

2.      Metode diskusi
Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Diskusi tidak sama dengan berdebat. Diskusi selalu diarahkan kepada pemecahan masalah yang  menimbulkan berbagai macam pendapat dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompok.
Zuhairini, Memberikan pengertian tentang metode diskusi secara umum sebagai salah satu metoide interaksi edukatif  diartikan sebagai metode didalam mempelajari bahan atau penyampaian bahan pelajaran dengan jalan mendiskusikannya sehingga menimbulkan pengertian, pemahaman, serta perubahan tingkah laku murid seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksionalnya.[15]
Dalam dunia pendidikan metode diskusi ini mendapat perhatian karena dengan diskusi akan merangsang anak-anak untuk berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu metode diskusi bukanlah hanya percakapan atau debat biasa saja, tapi diskusi timbul karena ada masalah yang memerlukan jawaban atau pendapat yang bermacam-macam.

3.    Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah salah satu tehnik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disababkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengertikan dan mengungkapkan apa yang telah di ceramahkan.
Metode tanya jawab ialah cara penyampaian pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid memberikan jawaban, atau sebaliknya murid yang mengajukan pertanyaan dan guru yang memberikan jawaban.[16]  
Metode tanya jawab juga dapat diartikan sebagai suatu metode di dalam pendidikan dan pengajaran di mana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang bahan materi yang diperolehnya.
Metode tanya jawab dapat  digunakan oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah anak didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan. Metode tanya jawab juga diartikan sebagai metode mengajar dimana seorang guru mengajukan  beberapa pertanyaan kepada beberapa murid tentang pelajaran  yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca sambil memperhatikan proses berfikir diantara murid-murid.[17]

4.    Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat-alat bantu pengajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, perangkat alat-alat laboratorium dan lain-lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.

5.    Metode Sosio Drama
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social, metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Menurut Abdurrahman Shaleh metode sosio drama dan bermain peran adalah dua metode yang dikatakan bersama dan dalam penggunaannya sering digunakan silih berganti.

6.    Metode Resitasi
Adapun pengertian lain dari metode resitasi adalah cara menyajikan bahan pelajaran di mana guru memberikan sejumlah tugas terhadap murid-muridnya untuk mempelajari sesuatu, kemudian mereka disuruh untuk mempertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan oleh guru bisa berbentuk memperbaiki, memperdalam, mengecek, mencari informasi, atau menghafal pelajaran yang akhirnya membuat kesimpulan tertentu. Buku “pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam.[18]
Metode pemberian tugas belajar (resitasi) sering disebut metode pekerjaan rumah, adalah metode di mana murid diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Dalam pelaksanaan metode ini anak-anak dapat mengejakan tugasnya tidak hanya di rumah, tapi dapat dikerjakan juga di perpustakaan, di laboratorium, di ruang-ruang praktikum dan lain sebagainya untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada guru.

Pembelajaran pendidikan agama Islam yang berjalan hingga sekarang lebih banyak terfokus pada persoalan persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata. Pendidikan agama terasa kurang terkait atau kurang consern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara, media dan forum. Selanjutnya “makna” dan “nilai” yang telah terkunyah dan terhayati tersebut dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk bergerak, berbuat, berprilaku secara konkrit agamis dalam wilayah kehidupan praksis sehari-hari.








KESIMPULAN



Pada hakikatnya, semua strategi dan metode itu baik asal sesuai dengan karakter dan situasi yang ada. Dalam hal pembelajaran fiqih, seorang guru dapat menggunakan strategi dan metode mengajar apapun yang dirasa efektif untuk membuat siswa menguasai ilmu fiqih yang akan kita ajarkan. Tetapi, sebaik apapun strategi dan metode yang digunakan oleh guru, tidak akan efektif apabila seorang guru tidak dapat menggunakannya secara optimal. Selain itu, berbagai factor seperti siswa, lingkungan materi dan lain sebagainya juga dapat mempengaruhi penggunaan strategi dan metode dalam pembelajaran khususnya fiqih.

















DAFTAR PUSTAKA



Arief, Armai, 2002. Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Asy-Syalhub, Fuad bin Abdul Aziz. 2005. Mengajar EQ Cara Nabi. Bandung: MQS Publishing.
Departemen Agama RI. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: LAPIS-PGMI.
Hadi, Sutrisno. 1993. Metode Pembelajaran. Yogyakarta: Andi Offset.
Hanafiah, Nanang dan Suhana, Cucu. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Hasibuan dan Moedjiono. 1986. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2005. Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosda karya.
Suabana, M. dkk. ______. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Sinar Baru Algesindo.
Sumiati dan Asra. 2008. Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Kencana Permata.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana.
Usman, Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Uno, Hamzah B. 2009. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Werkanis dan Hamadi, Marlius. 2003. Strategi Mengajar (dalam Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah). Pekanbaru: Pemerintah Daerah Provinsi Riau Dinas Pendidikan Nasional.
Zainuddin, dkk. 1991. Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara.
Zuhairini dan Ghofir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran. Malang: UM PRESS.





[1]M. Suabana, dkk. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, ____), hlm. 9.
[2]Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 147.
[3]Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif), (Jakarta: PT. Bumi Aksara: 2009), hlm. 1.
[4]Werkanis dan Marlius Hamadi, Strategi Mengajar (dalam Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah), (Pekanbaru: Pemerintah Daerah Provinsi Riau Dinas Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 10.
[5]Op.Cit, hlm. 2.
[6]Departemen Agama RI. Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: LAPIS-PGMI, 2008), hlm. 11.
[7]Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 166.
[8]Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, Mengajar EQ Cara Nabi, (Bandung: MQS Publishing, 2005),  hlm. 116-117.
[9]E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2005), hlm. 55.
[10]Nanang Hanafiah, dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 67.
[11]Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Kencana Permata, 2008), hlm. 13-14.
[12]Zainuddin, dkk. Seluk-Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 75-80.
[13]Armai Arief,  Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 135-136.
[14]Basyiruddin Usman,  Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 34.
[15]Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran, (Malang: UM PRESS, 2004), hlm.64.
[16]Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1986), hlm. 63.
[17]Sutrisno Hadi, Metode Pembelajaran, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), hlm. 192.
[18]Arief, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm.164.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar